"Gunakan telinga, hati. Cobalah dengar nyanyian kami. Bayangkanlah hidupmu. Bila tak ada kami." #DengarAlamBernyanyi
Hari itu di suatu tempat yang baru pertama kali aku injakkan kaki di atasnya. Seumur hidupku, baru pertama kali aku pergi meninggalkan tanah kelahiran untuk jangka waktu yang akan sangat panjang. Keraguan sangat menghantui diawal-awal aku berkemas. Banyak pertanyaan bergelantung di angan. "Apa bisa aku nanti hidup disana?" "Apa bisa aku nyaman disana?" "Apa bisa aku berada disana dalam jangka waktu yang lama?"
Salah satu keresahanku meninggalkan Jogja adalah alamnya. Dimana setiap pagi aku bisa melihat Merapi dan Merbabu bercengkrama dengan awan dan kabut-kabutnya. Lalu saat senja aku bisa mencari batasan antara langit dan laut di selatan. Awalnya aku benar-benar takut kehilangan tempat seindah Jogja. Siang yang panaspun di Jogja masih bisa melihat hamparan langit yang biru dengan awan yang saling berkejaran. Ya, aku sangat mencintai pemandangan alam ini. Sejak terlahir di kota Jogja, dan akhirnya beranjak tumbuh usia, aku beberapa kali mengelilingi beberapa kota di Indonesia ini. Dan, ya, Jogja masih menjadi tempat dengan alam yang terbaik. Aku masih bisa menemui sawah, hutan, laut, gunung, dan segala pemandangan alam yang luar biasa.
Ini pertama kali merantau dan jauh, doaku selalu sama beberapa bulan sebelum berangkat... "Setidaknya ada alam yang bisa membuatku jatuh cinta di sana."
Pemandangan pertama yang aku lihat dari atas langit. Indah. Saat itu aku mulai tersenyum membayangkan keindangan alam di sana. Terlihat sebuah pulau yang berisi pohon-pohon rimbun. Ditengah birunya air laut terdapat setitik pulau dengan pohon-pohon indah menetap didalamnya. "aku akan kesana" pikirku saat itu. Seketika juga aku mulai menyadari bahwa aku tidak akan kebosanan dengan keadaanku di kota ini nanti.
Hari pertama di sebuah kota yang baru pertama juga aku melangkahkan kaki, Palu. Pukul enam pagi. Aku berjalan keluar rumah kosan. Niat hati aku ingin mengenal lingkungan sekitarku sambil mencari makan pagi. Aku berjalan sedikit jauh ke arah jalan raya. Senyumku sedikit demi sedikit mengembang kembali. Baru juga beberapa langkah aku berjalan, aku menemukan satu hal yang membuatku mulai mencintai kota ini, pemandangannya. Biru. Nyata. Hijau. Terbentang.
Beberapa hari selanjutnya, setelah hilang jetlag dan rasa lelah. Aku memberanikan diri untuk menjelajah kota Palu ini. Kecintaanku pada alam sedikit meronta mengajakku untuk segera mencari tempat untuk batinku berdiam diri. Ketenangan dan kesejukan, ya aku mencarinya. Suatu pagi setelah sholat subuh, aku berjalan lurus ke barat. Mencari pemandangan yang aku lihat setiap pagi. Bukit hijau yang sangat indah dengan awan-awan menemaninya. Semakin jauh kebarat, semakin jalan yang kulalui menanjak. Perlahan aku merasa sudah berada di dataran yang lebih tinggi. Ternyata bukan hanya aku. Ada beberapa orang berhenti di tempat seperti taman berukuran kecil. Mereka melihat kearah berlawanan. Seketika aku memalingkan wajah dan menghadap ke sana. Luar biasa. Ada bukit lain di seberang. Indah dan sangat indah. Matahari perlahan muncul dari baliknya. Luar Biasa.
Menurut komunitas Perkumpulan Imunitas Sulawesi Tengah, Hutan di sini memiliki luas kurang lebih 6 hektar. Hutan di Sulawesi Tengah bukan hanya bermanfaat untuk flora dan fauna saja, namun didalamnya juga ada masyarakat adat yang hidup. Masih banyak sekali suku-suku yang hidup di dalam hutan di Sulawesi Tengah ini. Salah satunya adalah Tau Taa Wana Posangke, yang merupakan komunitas adat yang masih tinggal di lembah dan bukit sepanjang aliran Sungai Salato yang berada di Kabupaten Morowali Utara. Komunitas ini hidup sangat bergantung dengan hutan. Mereka memiliki pola tata guna lahan sendiri yang mereka gunakan untuk hidup secara turun temurun agar hutan tempat mereka tinggal tetap terjaga dan berkelanjutan. Orang Wana Posangke adalah komunitas adat yang sangat kuat dalam mempertahankan hutan tempat mereka hidup. Mereka akan terus berusaha mempertahankan hutannya untk tetap hidup dan menghidupkan hutan tempat mereka tinggal.
Selain itu, di Sulawesi Tengah ini memiliki danau terbesar ke tiga di Indonesia yaitu Danau Poso. Danau Poso memiliki kedalaman tiga kali lipat dari pada Laut Jawa. Danau Poso menjadi tempat hidup ratusan spesies ikan yang unik dan hampir punah. Selain itu juga memberikan persediaan air bagi masyarakat di sekitar. Dalam kehidupan di danau ini juga, Hutan memiliki peran penting untuk menjaga kualitas tanah dan aliran airnya.
Namun sayangnya dari informasi yang beredar, hutan di Sulawesi telah rusak dan menggundul. Provinsi Sulawesi Tengah terus kehilangan sedikit demi sedikit hutan setiap tahunnya. Hal ini terjadi karena beberapa persen lahan dialokasikan untuk menjadi tempat pertambangan dan ada juga yang dikonversi menjadi perkebunan. Selain itu karena adanya konversi budidaya, banyak hutan bakau di Sulawesi ini digunduli. Penebangan hutan sangat merugikan karena memiliki konsekuensi terhadap kesehatan ekosistem dan keanekaragaman hayati.
Dari Palu Aku Merasakan Manfaat Pohon
Dulu aku pikir pelajaran tentang manfaat pohon untuk dunia itu hanya formalitas saja. Namun setelah aku berada di kota ini aku merasa banyak manfaat dari pohon-pohon yang tumbuh di sekitar kita. Beberapa hal yang aku rasakan sendiri dari manfaat banyaknya pohon dan hutan:
Udara menjadi sejuk. Palu termasuk kota yang sangat panas karena terik matahari. Namun karena kondisi Palu yang berada di antara dua bukit dan laut, Udara di sini menjadi sangat sejuk. Aku merasa setiap tarikan nafas selalu diikuti dengan kelebihan oksigen. Aku juga merasa di sini tidak ada polusi udara meskipun banyak kendaraan berlalu lalang. Pikirku itu karena Pohon yang banyak dapat mengikat banyak karbondioksida dan merubahnya menjadi oksigen untuk diedarkan. Sehingga udara di sini terasa sangat sejuk meski matahari terik.
Langit menjadi cerah. Selama hampir tiga bulan aku berada di kota Palu ini, aku belum pernah menemui langit gelap dan bercampur polusi. Di sini setiap hari langit berwarna biru cerah dan sangat indah didampingi awan-awan putih. Ini menjadi satu poin plus untuk aku menjadi lebih cinta dengan Palu. Langit yang cerah kemungkinan tejadi karena tidak adanya polusi udara karena banyak pohon yang dapat menarik karbondioksida dan merubahnya menjadi oksigen.Obat mental health. Jaman sekarang, anak-anak muda sering mengucapkan kata-kata "Mental Health" dan untuk menyembuhkannya dibutuhkan "Healing" begitu kata mereka. Kata healing sendiri jika diterjemahkan berarti penyembuhan. Jadi bisa disimpulkan bahwa healing adalah penyembuhan untuk penyakit mental. Anak-anak muda sekarang ini menyebut jalan-jalan menyusuri alam itu dengan nama healing. Memang benar sekali, hanya sekedar melihat alam, pepohonan, lautan, dan pemandangan lainnya sudah mampu mengobati penyakit mental. Pohon-pohon hijau dengan suara-suara satwa didalamnya dapat membuat hati tenang. Di Palu, banyak sekali pegunungan dengan ribuan pohon yang dapat dikunjungi untuk menyembuhkan stress yang aku rasakan, salah satunya di bukit Papandaeng. Jika berangkat sebelum subuh, dibukit tersebut dapat terlihat matahari terbit dan kabut yang perlahan menghilang. Menuju matahari meninggi, akan terlihat lautan yang kehilangan kabut sebagai selimutnya. Dijamin perasaan gundah, stres, dan penyakit mental lainnya akan hilang seketika.
Kerusakan Hutan di Sulawesi Tengah
Dari pelajaran sewaktu sekolah dulu, yang paling aku ingat, kerusakan hutan selalu diakibatkan oleh pembakaran hutan dan penambangan. Sampai aku sebelum pindah ke kota Palu ini, aku masih merasa itu hanya sebatas teori saja. Namun setelah aku berada di sini, di Palu. Aku melihat sendiri, bagaimana pohon-pohon yang menjadi hutan satu persatu ditebang untuk dijadikan lahan pertambangan. Sedih sekali aku melihatnya. Aku tidak bisa membanyangkan bagaimana satwa-satwa didalamnya harus pergi, mengungsi, dan mencari tempat lain untuk tinggal dan berkembang biak.
Disebuah artikel, aku pernah membaca bahwa sebuah akar pohon menyimpan karbondioksida didalamnya. Ketika pohon tersebut ditebang, maka karbon dioksida dapat memuai dan menyebar diudara. Bayangkan saja jika satu pohon sudah hidup lebih dari lima puluh tahun, berarti pohon tersebut menyimpan karbon dioksida yang sangat banyak. Ketika pohon tersebut di tebang, akan ada penyebaran karbon dioksida yang akan sangat merusak bumi kita ini. Aku tidak bisa membayangkan jika udara akan menjadi sangat langka untuk manusia kedepannya. Atau bahkan untuk mendapat udara harus membelinya suatu hari nanti.
#IndonesiaBikinBangga Indonesia termasuk tiga besar negara yang dijadikan paru-paru dunia. Itu diartikan bahwa Indonesia memiliki andil penting dalam kehidupan manusia di dunia ini. Jika hutan-hutan di Indonesia ini semakin habis, maka bisa dipastikan kehidupan di dunia ini juga akan semakin carut-marut. Ketika udara dan oksigen masih menjadi hal pertama yang dibutuhkan untuk hidup, maka pembalakan liar, pertambangan, dan pembakaran hutan bisa membuat manusia di dunia ini menjadi sedikit waktu hidupnya. Indonesia menjadi salah satu tulang punggung dunia untuk oksigen. Bayangkan saja apabila hutan-hutan di Indonesia ini di tebang dan di ratakan tanah. Aku tidak pernah ingin melihatnya.
Apa yang Aku Lakukan Untuk Hutan?
Banyak sekali teori-teori yang ada di buku tentang bagaimana cara untuk menjaga hutan. Namun pasti banyak juga orang yang akan berkata itu terlalu sulit. Lalu bagaimana cara yang mudah untuk dapat menjaga hutan kita ini? Ada beberapa hal yang aku lakukan untuk menjaga hutan kita ini.
Menggunakan kertas secukupnya. Sudah beberapa tahun belakangan aku menerapkan hidup papperless. Aku sudah sangat mengurangi penggunaan kertas dan benda-benda lain yang bersumber dari hutan. Pabrik-pabrik pembuat kertas menjadikan pohon sebagai bahan utamanya. Sehingga dengan mengurangi penggunaan kertas akan menjaga hutan kita ini tidak rusak dan habis digunakan untuk industri. Jaman sekarang ini sudah bisa menggunakan teknologi di handphone atau komputer untuk pencatatan, tidak perlu menggunakan kertas lagi. Dengan mengurangi penggunaan kertas, aku yakin dapat membantu melestarikan hutan kita ini.
Menanam pohon. Pada akhirnya pohon-pohon yang tua harus digantikan dengan pohon-pohon baru yang lebih muda. Sedari kecil, ibuku sudah membiasakan anak-anaknya untuk menanam pohon. Sebulan sekali, aku selalu diajak ibuku untuk membeli benih pohon di pasar. Kebiasaan itu masih terbawa hingga hari ini. Bahkan aku memiliki cita-cita untuk membuat kebun di halaman rumahku nanti.
Mengunjungi hutan. Berada diantara pohon-pohon tinggi dengan suara-suara burung berkicau masih menjadi tempat yang paling aku sukai. Sesekali di saat senggang, aku menyempatkan diri mengunjungi hutan-hutan yang terjangkau. Tidak harus masuk kedalamnya, cukup berada disekelilingnya saja, menikmati pemandangan dan alam sekitar. Di sana aku selalu merasakan bahwa hutan milik kita ini sangat menakjubkan dan memiliki banyak keindahan dan manfaat yang tak terkira. #HutanKitaSultan
Donasi. Ada beberapa donasi hutan yang pernah aku ikuti. Salah satunya adalah saat ulang tahun kim namjoon BTS. Saat itu penggemar BTS melakukan galang dana untuk penghijauan pohon di Indonesia. Aku mendaftar menjadi salah satu donaturnya. Jenis pohon yang ditanam adalah Pohon Jambu Air dan penanamannya di Awi Poleng, Mekarjaya, Bandung. Alasanku menjadi donatur tidak lain adalah jika bukan kita lalu siapa lagi yang akan menjaga hutan dan alam kita ini? Begitulah.
Dan sekarang ini baru ada donasi untuk hutan Indonesia milik kita. Tidak perlu mengeluarkan uang untuk donasi ini. Cukup mendengarkan lagu Dengar Alam Bernyanyi yang dibawakan oleh Laleilmanino bersama Chicco Jerikho, HIVI!, dan Sheila Dara Aisha di platform-platform musik yang biasa kalian gunakan, Spotify, Youtube, Apple Music, dan Lainnya. Dengan mendengarkan lagu Dengar Alam Bernyanyi, kita sudah berpartisipasi untuk melindungi hutan di Indonesia dan kita juga menjadi bagian dari #TeamUpforImpact untuk hutan di Indonesia. Masih tidak mau? Coba renungkan kembali, bagaimana hutan sangat membantu kehidupan kita?
Dengar alam bernyanyi!
Satu pesan #UntukmuBumiku dari lagu Dengar Alam Bernyanyi yang harus kita campkan sebagai manusia yang sering mengeluh pada panasnya dunia.
Bila kau lelah dengan panasnya hari, Jagalah kamu agar sejukmu kembali.
-fadillamira-
.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar